Kamis, 21 Oktober 2010

Artificial Intelegence

Kecerdasan Buatan (bahasa Inggris: Artificial Intelligence atau AI) didefinisikan sebagai kecerdasan yang ditunjukkan oleh suatu entitas buatan. Sistem seperti ini umumnya dianggap komputer. Kecerdasan diciptakan dan dimasukkan ke dalam suatu mesin (komputer) agar dapat melakukan pekerjaan seperti yang dapat dilakukan manusia.
Kecerdasan buatan tersebut berupa suatu komputer tanpa menggunakan layar. Jadi menggunakan layar abstrak berupa visualisasi 3 dimensi. Menggunakan output dari infocus tetapi tidak membutuhkan layar sebagai objeknya sehingga hasil yang didapat berupa layar yang melayang di udara. Dapat dimanipulasi sedemikian rupa seperti pada komputer biasa tanpa menggunakan keyboard. Tampilan 3 dimensinya dapat diubah-ubah bentuknya sesuai keinginan kita seperti halnya komputer biasa.
Untuk memanipulasinya hanya dengan menggunakan sentuhan pada tampilan yang ada, menu-menu yang ada dapat dipilih hanya dengan menyentuh tampilan tersebut. Sehingga dapat disebut komputer sentuh tetapi tidak menggunakan layar sebagai media sentuhnya.

Rabu, 19 Mei 2010

Manfaat Pajak bagi Masyarakat

Pajak, sebagai salah satu sumber penerimaan terbesar negara, telah banyak memberi manfaat. Beberapa pengeluaran pemerintah menggunakan dana pajak di antaranya belanja pegawai dan pembiayaan pembangunan sarana umum seperti jalan, jembatan, rumah sakit, hingga kantor polisi.

Pendidikan juga menjadi sektor yang mendapatkan alokasi pajak. Penyaluran di antaranya melalui program bantuan operasional sekolah (BOS), wajib belajar sembilan tahun gratis, penyediaan alat tulis, buku pelajaran, renovasi sekolah, serta beasiswa. Dengan langkah ini diharapkan kualitas pendidikan lebih meningkat. Ini juga sebagai cara agar masyarakat ekonomi lemah memperoleh kesempatan bersekolah.

"Manfaatnya yang dapat dirasakan sampai ke lapisan masyarakat terkecil khususnya pendidikan untuk di sekolah-sekolah yaitu dengan adanya pendidikan gratis dimana anak-anak ini sudah menikmati," kata Syahdinar, Kepala Sekolah SDN BENDUNGAN HILIR 01 Jakarta.

Masyarakat pun berharap upaya Ditjen Pajak menggali potensi perpajakan di Indonesia terus berkesinambungan agar masyarakat hingga ke pelosok Negeri dapat merasakan manfaatnya. Karena cara ini sekaligus meningkatkan rasa percaya para wajib pajak terhadap kinerja dan manfaat atas uang yang telah mereka keluarkan untuk negara selama ini.

Namun masih sedikit sekali manfaat pajak yang dapat dirasakan oleh orang yang dibawah garis kemiskinan. mereka tidak pernah mengerti dan tidak tahu akan arti serta peranan pajak serta mereka pun tidak dapat merasakan manfaat yang didapt dari pajak tersebut. oleh karena itu pajak hendaknya dibagi secara proporsional agar semua golongan di negeri ini dapat merasakan manfaat dari pajak tersebut.

referensi : http://berita.liputan6.com/lainlain/200806/160834/class=%27vidico%27

Legenda Daisetsuzan


Oleh Gretel Ehrlich
Foto oleh Michael Yamashita

Dua gunung api besar tersemat di taman nasional yang ada di tengah-tengah pulau paling utara Jepang, Hokkaido.
Api dan air berbenturan di Daisetsuzan. Dua gunung api besar tersemat di taman nasional yang ada di tengah-tengah pulau paling utara Jepang, Hokkaido, tersebut. Puncak-puncaknya yang berasap melandai ke lereng yang berhutan, berbantalkan salju, dan terkikis sungai—200.000 hektar dengan warnanya berganti-ganti dari hijau, jingga, merah, dan putih, sesuai musim. Kepulauan Jepang menyeruak dari dalam laut akibat kekejaman seismik. Lempeng-lempeng tektonik menggelincir dan saling menimpa, lapisan batu cadas meleleh dan terkumpul di bawah tanah, gunung api meletus. Asahi Dake, gunung tertinggi di Hokkaido yang tidur selama berabad-abad menjulang di utara.

Tokachi Dake di selatan, terakhir kali meletus pada 2004. Dalam iklim Hokkaido yang dingin dan basah, gunung-gunung api yang dibangun oleh api internal Bumi tertutupi salju dan salju berubah menjadi aliran air yang deras, hutan, lumut, dan bunga. Daisetsuzan berarti “gunung salju yang besar.” Tetumbuhan yang lebat menyebabkan sebagian besar Daisetsuzan tak bisa dimasuki, tetap lestari dengan sendirinya, tidak terganggu, kecuali oleh adanya beberapa jalan setapak. Di negara kepulauan yang padat ini—salah satu negara yang paling padat industri dan paling padat penduduknya di dunia—taman tersebut menyediakan ruang terbuka yang langka, puncak gunung dan hutannya dikelilingi lahan-lahan pertanian yang asri. Taman itu menjadi tempat persinggahan rusa, burung, kelinci, dan beruang, serta pepohonan, semak belukar, dan aneka bunga. Wisatawan Jepang yang menyandang ransel terpesona oleh kemegahan alam tersebut.

Sesekali di musim panas dan gugur, Michiko Aoki, putri seorang pendeta Buddha, mendaki selama delapan jam dan melampaui Asahi Dake, menyeberangi punggung bukit yang berliku, dan turun ke lembah yang jarang ditapaki manusia untuk menemui kekasihnya yang membantu pemantauan beruang cokelat Hokkaido penghuni taman. Pada satu dini hari yang hangat di musim gugur, aku menyertainya. Di saat kami mendekati Asahi Dake, nafas yang bergaung dari lubang-lubang di gunung api itu mengingatkan kami bahwa ada gunung di depan, tetapi karena tersaput awan, Asahi Dake luput dari penglihatan kami. Di permukaan danau Sugatami-ike yang sebening cermin, bercak salju di kejauhan berbaur dengan uap air; alur-alur uap air mengikat Asahi Dake dengan kamuy, ruh suku Ainu yang hidup di segala penjuru.

Di masa ketika gletser sepenuhnya menutupi wilayah tersebut 18.000 tahun silam, Hokkaido dihubungkan dengan Asia oleh jembatan-jembatan darat, bukan dengan Jepang, dan para leluhur masyarakat suku Ainu menyeberanginya untuk mencapai Hokkaido. Segelintir suku asli Ainu masih tersisa, meskipun leluhur mereka telah diusir dan diasimilasi oleh bangsa Jepang. Bagaimanapun, mustahil menikmati sungai dan pegunungan ini tanpa memikirkan cara pandang suku Ainu yang menyakralkan tempat tersebut.

Orang Ainu membagi tanah mereka menjadi lahan-lahan cakupan desa atau iwor, tempat mereka memancing ikan salem, berburu beruang, dan mengumpulkan kayu dan buah buni. Makhluk hidup yang menjaga mereka adalah para dewa yang sedang menyamar, ruh yang mengunjungi dunia fana. Kamuy juga muncul sebagai benda mati: pisau berburu dan rumah bambu. Untuk mengembalikan kamuy ke dunia ruh, suku Ainu menyelenggarakan beberapa ritual dengan menyediakan persembahan berupa makanan dan doa. Upacara utama mereka berupa penghormatan terhadap beruang—sang penyedia makanan, bulu, dan tulang untuk perkakas. Mereka menyebut Asahi Dake sebagai Gunung Nutap-kamui-shir yang berarti “gunung dewa yang mengandung wilayah bagian dalam dari belokan sungai.”

referensi : http://nationalgeographic.co.id/feature/68/legenda-daisetsuzan

Kisah Lima Danau


Oleh Peter E. Hehanussa
Foto oleh Tantyo Bangun


Saya tertegun saat mendengar kabar terbaru: lima danau Malili telah terkepung pembalakan liar.
Saya hanya dapat tertegun saat mendengar kabar terbaru: lima danau Malili telah terkepung kegiatan pembalakan liar. Jalanan tak resmi yang dibuat para pembalak bagaikan urat nadi yang karut-marut, rona yang telah mengacak-acak tutupan yang menghijau pada peta radar terbaru. Kegiatan yang merusak ekosistem penyokong keberadaan kehidupan danau, termasuk tata air di dalamnya, itu semakin mengganas, tanpa memedulikan masa depan.
Di akhir Agustus yang diselimuti awan kumulus, saya dan beberapa rekan akhirnya dapat mengudara. Menumpang pesawat penebar bibit hujan milik PT Inco, perusahaan yang melakukan kegiatan penambangan nikel, di sekitar danau Malili, saya dapat menyaksikan lansekap yang unik. Kombinasi lima danau dengan dikelilingi kawasan berbukit-bukit terjal yang puncaknya mencapai 1.200 meter telah memikat hati saya. Dua lempeng besar, Pasifik dan Asia, yang bergerak horisontal, saling memberikan gaya dorong dan bertemu di sekitar Danau Matano, telah membuat lukisan yang indah. Bukit dengan tegakan menghijau harus diselingi peradaban tepi danau, seperti Larona, Nuha, Matano, dan Sorowako. Awan yang menyelimutinya memang sedikit membuat hati kesal, pandangan menjadi terhalang.
Selama penerbangan itu, kami sibuk melihat ke bagian bawah. Tak ada percakapan. Di kursi yang berada depan saya, Gadis S. Haryani, pimpinan Pusat Penelitian Limnologi – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang pernah melakukan penelitian di Danau Matano juga serius mengamati. Kami tercengang ketika pesawat melintasi wilayah datar yang cukup luas, sebagian terbuka, tanpa lindungan tegakan kayu. Bagian yang terbuka itu telah diisi dengan permukiman yang tersusun rapi. Kawasan berada di sisi timur Danau Mahalona itu telah disiapkan sebagai lahan dan permukiman transmigrasi. Kawasan ini menambah keping-keping yang bolong di antara hutan hujan yang ada.

Keterkejutan saya di tahun ini tentu saja berbeda dengan apa yang saya rasakan pada awal 1970-an. Ketika itu, saya menelusuri Sorowako melalui darat bersama dua orang rekan peneliti, yang salah seorang di antaranya berasal dari Amerika Serikat. Kami yang memakai topi pet, pakaian lapangan, sepatu bot, dan tangan menggenggam palu geologi, tertegun melihat singkapan batuan di tebing terjal yang belum selesai dipapas dengan alat berat. Kami memandanginya di tepi jalan raya yang tengah dibangun antara Desa Soroako dan Kota Malili. “Sungguh tak dapat dipercaya!” kami saling berpandangan. Selama di bangku kuliah kami tidak pernah belajar bahwa batuan ultra-basa yang terbentuk di dasar dan tengah laut-dalam dapat berada bersama bahkan campur-aduk dengan batugamping yang terbentuk di laut-dangkal. Saat kami mengamati fenomena tersebut, ilmu geologi baru memasuki periode transformasi fundamental dari konsep geosinklin menjadi tektonik lempeng.
Pada singkapan batuan di depan mata, kami melihat batu gamping yang berwarna putih susu membentuk lensa yang mirip ikan dan diselimuti batuan berwarna gelap, batuan ultra basa. Batuan ultra basa itu tergerus retak-retak, ada yang kecil seukuran bantal kepala tapi ada juga yang besar berukuran rumah T-36. Semua bidang batas batuan ultra basa dan batugamping membentuk permukaan yang licin mengkilat, menandakan telah terjadi penggerusan yang hebat yang tentu digerakkan oleh energi yang sangat-sangat kuat. Di depan mata terekam bagian yang sangat penting dari sejarah pembentukan Bumi, zona tempat pertumbukan antar-lempeng benua, sebuah bukti up-duction.
Peristiwa ini berlangsung hampir bersamaan dengan saat di mana ilmu pengetahuan ikut berperan mendorong perubahan perilaku penduduk dunia yang saat itu makin haus bahkan tanpa kendali mengkonsumsi energi dan mineral bahan baku. Di era awal tahun 1960-an mereka yang percaya pada konsep pesimistik mewahyukan bahwa sebentar lagi dunia akan kiamat, sebab ia telah dekat kepada batas daya dukungnya untuk menyediakan energi dan mineral kebutuhan manusia yang terus meningkat. Namun ada kelompok lain yang mengatakan bahwa daur ulang dan perubahan dalam peri laku manusia mengeksploitasi sumber daya alam dapat menunda terjadinya ‘kiamat’ itu. Batuan campur aduk dengan komposisi aneh di depan mata, inilah salah satu saksi bisu betapa kemanusiaan yang beradab dan humanisitik serta teknologi yang tepat dapat ikut berperan merubah jalannya kehidupan di bumi. Penelitian lapangan yang dilakukan sejak awal tahun 1970-an oleh tim geologi menemukan indikasi upduction pada salah satu singkapan ultrabasik terbesar di dunia, sebuah fenomena yang terbalik dari apa yang ditemui di deretan Pulau Simuelue-Nias-Siberut-Enggano di barat Sumatera dimana terdapat subduction pada pertemuan diantara dua lempeng benua.
***
Dua dekade lalu Soroako hanya sebuah desa kecil nan sepi di tepi Danau Matano. Akan tetapi tempat yang kini namanya telah dikembalikan ke ejaan aslinya menjadi Sorowako telah bertransformasi menjadi kota modern. Sorowako menjadi penopang perekonomian Kabupaten Luwu Timur. Populasi yang mencapai 9.000 jiwa memiliki profesi dan latar belakang berbeda serta saling berbaur. Di sini terjadi melange bukan saja dari asosiasi batuan geologi tetapi juga tradisi dan kultur berbagai penjuru Indonesia dan dunia.
Perubahan itu digerakkan oleh kegiatan penambangan nikel oleh PT Inco yang memulai kegiatan eksplorasi intensif di tahun 1968. Pada masa itu saya bersama-sama Benny Wahyu, rekan saya sejak mahasiswa dan pernah bekerja sebagai geolog senior perusahaan tambang itu mendiskusikan proses produksi komersial nikel yang dimulai pada tahun 1973. Biji nikel ditambang di gunung sebelah selatan Danau Matano, pabrik pemurnian nikel dibangun di timur Sorowako, lalu biji nikel matte hasil konsentrat diangkut dengan truk raksasa ke pelabuhan Malili di sebelah selatan untuk dikapalkan dan diproses lebih lanjut di Jepang.
Biji nikel laterit yaitu konsentrat nikel yang terakumulasi di sebuah lapisan dekat permukaan tanah kini sedang merubah nasib banyak orang di seluruh dunia. Unsur nikel memang diperlukan dalam melengkapi kemajuan teknologi yang melanda dunia, ia adalah bahan campuran ke logam untuk melawan korosi atau karat dalam berbagai peralatan modern dalam kehidupan kita sehari-hari. Bijih nikel laterit adalah lapisan yang terbentuk di dekat permukaan tanah, sisa dari proses pelapukan dan pelarutan batuan ultrabasa selama kurun waktu ribuan tahun. Oleh curah hujan yang tinggi dan iklim yang tepat pada batuan ultrabasa yang retak-retak, maka kebanyakan unsur lain di dalam tanah akan larut dan terangkut pergi bersama aliran air tanah ke lokasi yang lebih rendah. Maka tersisa unsur nikel dan besi yang sukar larut, tertumpuk menjadi lapisan nikel laterit yang berwarna merah-biru kecoklatan yang sukar larut.
Proses alam yang ribuan bahkan ratusan ribu tahun ini kini telah menjadikan nikel sebagai bahan tambang di sekitar Sorowako, ia aktif digali dan diambil dan akan habis dalam waktu seabad. Kota Sorowako yang telah lahir dari nikel, oleh karena itu mesti tetap dan terus eksis juga oleh kekuatan nikel. Nikel akan habis namun kelahiran dan kelanjutan berbagai kegiatan baru sejak kini mesti ditata secara arif sehingga kota ini tidak akan menjadi kota mati saat nikel habis tertambang.

referensi : http://nationalgeographic.co.id/feature/61/kisah-lima-danau

Tanah Haiti Kurus Kerontang


Oleh Joel K Bourne Jr.
Foto oleh Ariana Cubillos


Sebagai pengganti makanan-makanan impor yang tidak lagi terjangkau, sejumlah warga Haiti yang putus asa beralih ke kue yang terbuat dari lempung, garam, dan lemak––makanan tambahan tradisional untuk perempuan hamil.
“Te a fatige,” ujar 70 persen petani Haiti dalam sebuah survei baru-baru ini saat ditanyai tentang permasalahan utama pertanian yang mereka hadapi. “Bumi sudah lelah.”
Hal itu tidak mengherankan. Hampir selalu sejak 1492, tahun ketika Columbus menjejakkan kaki untuk pertama kalinya di Pulau Hispaniola yang tertutup hutan luas, negeri yang bergunung-bunung ini telah mengalami pengrusakan tanah pucuk dan pertumpahan darah – pertama oleh Spanyol yang menanam tebu, kemudian oleh Prancis yang menebangi hutan guna membuka lahan untuk kopi, nila, dan tembakau yang menguntungkan. Bahkan setelah budak-budak Haiti memberontak pada 1804 dan menyingkirkan jerat kolonialisme, Prancis memungut 93 juta frank sebagai uang pengganti dari negara bekas jajahannya tersebut––sebagian besar dalam bentuk kayu.
Segera setelah kemerdekaan, para spekulator dan pemilik perkebunan kelas atas memaksa kelas petani keluar dari sejumlah kecil lembah subur untuk pindah ke wilayah pedalaman yang terjal dan berhutan, tempat lahan jagung, buncis, dan singkong mereka yang menyusut berpadu dengan industri arang kayu yang berkembang sehingga memperparah penggundulan hutan dan erosi. Saat ini kurang dari 4 persen hutan Haiti yang tersisa dan di banyak tempat, tanah telah terkikis hingga ke lapisan tanah keras. Dari 1991 sampai 2002, produksi pangan per kapita secara nyata turun 30 persen. Jadi apa yang Anda lakukan jika hidup di negara termiskin di belahan barat dunia dan harga makanan pokok– “Beras Miami” dari AS-- meningkat dua kali lipat? Umumnya, Anda hanya bisa kelaparan dan menyaksikan anak-anak Anda dalam keadaan yang sama.

Namun, sebenarnya yang dipertaruhkan lebih dari sekedar kemampuan tanah Haiti untuk mengasupi sebuah negara yang kelaparan. Negara-negara pengimpor pangan di seluruh dunia juga menderita seiring dengan harga makanan pokok yang melonjak tajam, menimbulkan pertanyaan-pertanyaan kritis menyangkut tujuan dari berbagai program pendampingan pertanian yang selama beberapa dekade terakhir ini lebih berfokus pada menurunkan pajak dan menanam tanaman budidaya untuk ekspor daripada membantu negara-negara miskin untuk memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.

Program tersebut sudah tepat, kata para pejabat. “Swasembada pangan bukanlah tujuan yang harus ada,” kata Beth Cysper, wakil direktur dari misi US Agency for International Development di Haiti. “Saat ini ada pangan di Haiti. Hanya harganya saja yang tidak terjangkau. Jika secara ekonomi masuk akal bagi warga Haiti untuk menjual mangga dan mengimpor beras, itulah yang harus mereka lakukan.”

Masalahnya, kata ahli ekologi dan aktivis Sasha Kramer, adalah bahwa saat-saat ini para petani Haiti tidak mampu menjual mangga dalam jumlah yang memadai untuk dapat mengimpor beras. Untuk mendongkrak produksi pangan, Kramer dan para koleganya mendirikan Sustainable Organic Integrated Livelihoods (SOIL), sebuah kelompok nirlaba yang membangun jamban kompos—jamban yang buangan kotoran manusianya diproses sebagai kompos—di komunitas-komunitas pedesaan untuk kembali memberikan ladang zat-zat organik dan kesuburan yang sangat dibutuhkannya. “Dengan krisis kelaparan sekarang ini, sangatlah jelas jika masyarakat Haiti memiliki lebih banyak produksi lokal, mereka tidak akan terlalu rentan terhadap harga-harga makanan impor,” kata Kramer, asisten profesor di University of Miami.

Hingga keadaan tersebut tercapai, Haiti tetap menjadi sebuah pelajaran pedih dari apa yang telah dikatakan para ilmuwan pertanahan selama bertahun-tahun: saat kesuburan tanah sebuah negara lenyap, lenyap pulalah negara tersebut.

referensi : http://nationalgeographic.co.id/feature/69/tanah-haiti-kurus-kerontang