Rabu, 19 Mei 2010

Gunung Yang Berubah


Pertama kali menyelam di bawah bayangan Gunung St. Helens semasa remaja dahulu, masih terlintas dalam benaknya kondisi danau itu sebelum letusan pada bulan Mei 1980, sebelum sekitar 400 meter dari puncak gunung berapi itu—kira-kira tiga miliar meter kubik lumpur, debu, dan salju yang meleleh—meluncur ke dalam danau itu. Sebelum ukuran danau itu menjadi dua kali lebih besar tetapi hanya setengah kedalamannya. Sebelum akhirnya semua bukti kehidupan, binatang maupun manusia – kabin, jalanan, kamp, dan kaleng – disapu bersih. Sebelum danau itu menjadi hamparan sup tengik tanpa oksigen, dan ditutupi oleh hamparan tunggul pepohonan yang mengambang akibat tercerabut dari lanskapnya. Hal yang tertanam jelas di dalam ingatan Smith adalah apa yang dia sebut sebagai hutan “yang membatu”: pohon-pohon cemara tanpa cabang yang berdiri tegak dengan muramnya, terkubur dengan posisi berdiri lusinan meter di bawah permukaan air. Hutan di bawah air itu selalu menjadi sebuah misteri baginya sampai gunung itu meletus. Setelahnya, dia baru bisa memahaminya. Pepohonan itu adalah bukti terjadinya letusan di masa lalu—sebuah tanda Lake Spirit selalu menjadi langganan bencana.

Tiga dekade kemudian, Lake Spirit menjadi rumah bagi sebuah misteri baru: Bagaimana ikan, yang kini ukurannya dua kali lipat sebelum terjadi letusan, muncul kembali? Semua orang memiliki teorinya masing-masing. Smith, yang mengendalikan Eco Park Resort di pinggir monumen gunung berapi menduga ikan salem ini meluncur dari Danau St. Helens yang lebih kecil dengan posisi lebih tinggi pada saat banjir terjadi. Tetapi danau itu hanya dihuni oleh ikan salmon mackinaw—sementara ikan di Lake Spirit dari jenis pelangi. Ahli biologi Bob Lucas dari Departement of Fish and Wildlife di Washington meyakini bahwa seseorang secara ilegal telah menyebarkan benih ikan itu. Di akhir tahun 1990-an, sebuah telepon tak dikenal ke rumahnya seakan-akan membuktikan kecurigaannya: “Saya adalah orang yang menyebarkan benih ikan itu.” Pengujian awal genetik oleh ahli ekologi Charlie Crisafulli dari Forest Service juga menyatakan ikan salem itu bukanlah keturunan dari populasi ikan sebelum letusan. Baginya, pertanyaan yang lebih penting bukanlah bagaimana mereka tiba di sana tetapi bagaimana mereka bisa tumbuh sedemikian besarnya. Pada ulang tahun ke-30 letusan tanggal 18 Mei, salah satu hal yang pasti mengenai ikan salem di Lake Spirit adalah ikan ini telah memberikan semua orang—aktivis lingkungan, ilmuwan, nelayan, anggota kongres, pemburu, dan pemilik bisnis—sesuatu untuk diperdebatkan.

Danau seluas 11 kilometer persegi itu kini terletak di tengah-tengah kawasan penelitian yang tertutup, yang menempati seperempat dari 445 kilometer persegi Monumen Nasional Gunung Api St. Helens, yang telah disetujui Kongres pada 1982 “untuk melindungi sumber daya geologi, ekologi, dan kebudayaan … dengan cara yang sealami mungkin, memungkinkan berbagai kekuatan alami geologi dan kesinambungan ekologi untuk terus berlangsung tanpa gangguan.” Bagian dari zona ledakan yang kerap ditutup bagi publik ini telah menjadi salah satu tempat penelitian terbesar di planet kita.

Gunung berapi itu kembali hidup pada 2004 hingga 2008, memuntahkan uap panas dan debu sekitar 9.000 meter ke angkasa, menciptakan kubah lava baru di kawahnya sehingga memukau para pemerhati dan ahli geologi. Tetapi yang paling menarik di kawasan itu adalah dari sisi ekologi.

referensi : http://nationalgeographic.co.id/featurepage/148/gunung-yang-berubah/2

Sabtu, 08 Mei 2010

Persaingan Pasar Tradisional Dengan Pasar Modern



Berbeda dengan pasar modern, pasar tradisional sejatinya memiliki keunggulan bersaing alamiah yang tidak dimiliki secara langsung oleh pasar modern. Lokasi yang strategis, area penjualan yang luas, keragaman barang yang lengkap, harga yang rendah, sistem tawar menawar yang menunjukkan keakraban antara penjual dan pembeli merupakan keunggulan yang dimiliki oleh pasar tradisional.

Namun, selain menyandang keunggulan alamiah, pasar tradisional memiliki berbagai kelemahan yang telah menjadi karakter dasar yang sangat sulit diubah. Faktor desain dan tampilan pasar, atmosfir, tata ruang, tata letak, keragaman dan kualitas barang, promosi penjualan, jam operasional pasar yang terbatas, serta optimalisasi pemanfaatan ruang jual merupakan kelemahan terbesar pasar tradisional dalam menghadapi persaingan dengan pasar modern.

Ketika konsumen menuntut ’nilai lebih’ atas setiap uang yang dibelanjakannya, maka kondisi pasar pasar tradisional yang kumuh, kotor, bau, dengan atmosfir seadanya dalam jam operasional yang relatif terbatas tidak mampu mengakomodasi hal ini. Kondisi ini menjadi salah satu alasan konsumen untuk beralih dari pasar tradisional ke pasar modern. Artinya, dengan nilai uang yang relatif sama, pasar modern memberikan kenyamanan, keamanan, dan keleluasaan berbelanja yang tidak dapat diberikan pasar tradisional.

Kondisi ini diperburuk dengan citra pasar tradisional yang dihancurkan oleh segelintir oknum pelaku dan pedagang di pasar. Maraknya informasi produk barang yang menggunakan zat kimia berbahaya serta relatif mudah diperoleh di pasar tradisional, praktek penjualan daging oplosan, serta kecurangan-kecurangan lain dalam aktifitas penjualan dan perdagangan telah meruntuhkan kepercayaan konsumen terhadap pasar tradisional.

Belum lagi kenyataan, Indonesia adalah negara dengan mayoritas konsumen berasal dari kalangan menengah ke bawah. Kondisi ini menjadikan konsumen Indonesia tergolong ke dalam konsumen yang sangat sensitif terhadap harga. Ketika faktor harga rendah yang sebelumnya menjadi keunggulan pasar tradisional mampu diruntuhkan oleh pasar modern, secara relatif tidak ada alasan konsumen dari kalangan menengah ke bawah untuk tidak turut berbelanja ke pasar modern dan meninggalkan pasar tradisional.

Ancaman Pasar Modern Terhadap Pasar Tradisional

Eksistensi pasar modern di Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat. Menurut data yang diperoleh dari Euromonitor (2004) hypermarket meru-pakan peritel dengan tingkat pertumbuhan paling tinggi (25%), koperasi (14.2%), minimarket / convenience stores (12.5%), independent grocers (8.5%), dan su-permarket (3.5%).

Selain mengalami pertumbuhan dari sisi jumlah dan angka penjualan, peritel modern mengalami pertumbuhan pangsa pasar sebesar 2.4% pertahun terhadap pasar tradisional. Berdasarkan survey AC Nielsen (2006) menunjukkan bahwa pangsa pasar dari pasar modern meningkat sebesar 11.8% selama lima tahun terakhir. tiga tahun terakhir. Jika pangsa pasar dari pasar modern pada tahun 2001 adalah 24.8% maka pangsa pasar tersebut menjadi 32.4% tahun 2005. Hal ini berarti bahwa dalam periode 2001 – 2006, sebanyak 11.8% konsumen ritel Indonesia telah meninggalkan pasar tradisional dan beralih ke pasar modern.

Keberadaan pasar modern di Indonesia akan berkembang dari tahun ke tahun. Perkembangan yang pesat ini bisa jadi akan terus menekan keberadaan pasar tradisional pada titik terendah dalam 20 tahun mendatang. Pasar modern yang notabene dimiliki oleh peritel asing dan konglomerat lokal akan menggantikan peran pasar tradisional yang mayoritas dimiliki oleh masyarakat kecil dan sebelumnya menguasai bisnis ritel di Indonesia.

Untuk mengantisipasi hal tersebut perlu adanya langkah nyata dari pedagang pasar agar dapat mempertahankan pelanggan dan keberadaan usahanya. Para pedagang di pasar tradisional harus mengembangkan strategi dan membangun rencana yang mampu memenuhi kebutuhan dan tuntutan konsumen sebagaimana yang dilakukan pasar modern. Jika tidak, maka mayoritas pasar tradisional di Indonesia beserta penghuninya hanya akan menjadi sejarah yang tersimpan dalam album kenangan industri ritel di Indonesia dalam waktu yang relatif singkat. (*)Pertarungan sengit antara pedagang tradisional dengan peritel raksasa merupakan fenomena umum era globalisasi. Jika Pemerintah tak hati-hati, dengan membina keduanya supaya sinergis, Perpres Pasar Modern justru akan membuat semua pedagang tradisional mati secara sistematis.
Hanya tinggal menunggu waktu pasar tradisional akan mati oleh pasar modernSetelah tertunda 2,5 tahun, Peraturan Presiden (Perpres) No 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, serta Toko Modern (biasa disebut Perpres Pasar Modern), akhirnya ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 27 Desember 2007 lalu.

Enam pokok masalah diatur dalam Perpres yaitu definisi, zonasi, kemitraan, perizinan, syarat perdagangan (trading term), kelembagaan pengawas, dan sanksi. Soal zonasi atau tata letak pasar tradisional dan pasar modern (hypermart), menurut Perpres, disusun oleh Pemerintah Daerah (Pemda). Ini membuat pemerintah pusat terkesan ingin “cuci tangan”, mengingat tata letak justru merupakan persoalan krusial sebab tak pernah konsisten dipatuhi, yang lalu membenturkan keduanya. Pendirian Carrefour di kawasan CBD Ciledug, Kota Tangerang, Banten, misalnya. Awalnya Carrefour Ciledug ditolak keras oleh semua pedagang tradisional di sekelilingnya, tetapi pada akhirnya bisa beroperasi dengan mulus persis menjelang Natal 2007.

Pengalihan kewenangan mengeluarkan Izin Usaha Pasar Modern (IUPM) ke Pemda, memungkinkan pasar tradisional selalu dikorbankan dengan berbagai alasan. Indikasinya, sebagian besar pasar modern tidak memiliki IUPM dari pemerintah pusat. “Untuk masalah zonasi, Pemda diberi waktu tiga tahun untuk menyusun rencana umum tata ruang wilayah (RUTRW) yang mengacu kepada Undang-Undang Tata Ruang,” kata Ardiansyah Parman, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri, Depdag.

Akan Mati Semua
Penandatanganan Perpres berlangsung setelah PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk melepas bisnis ritelnya, dengan menjual seluruh kepemilikan sahamnya di PT Alfa Retailindo Tbk pada 5 Oktober 2006, dan di PT Sumber Alfaria Trijaya 15 Desember 2006. Ribuan outlet Alfamart dan Alfamidi tersebar di kawasan pemukiman warga, belum termasuk Alfa Rabat sekelas supermarket sebanyak 29 buah.

Setelah itu muncul kabar raksasa ritel asal Perancis PT Carrefour Indonesia sepakat untuk membeli 75 persen saham Alfa Ratailindo, dengan menyasar supermarketnya. Nota kesepahaman pembelian saham ditandatangani di Singapura 17 Desember 2007, dilanjutkan negosiasi pembelian saham pada 6 Januari 2008, menjadikan Carrefour berpotensi memonopoli usaha ritel sebab tampil sebagai market leader dan price leader.

Apabila pembelian saham Alfa benar-benar terjadi, maka, langkah perubahan Alfa Rabat menjadi Carrefour akan sama persis mengikuti jejak perubahan Hero menjadi Giant, atau supermarket Matahari menjadi Hypermart.

more.....

sumber artikel :
- http://www.google.co.id
-http://titik.dagdigdug.com/?p=26

Senin, 05 April 2010

Desain Hunian 2010, Transisi Minimalis ke Konsep Green

SEIRING perkembangan zaman, tren desain rumah tinggal semakin pesat. Sama pesatnya dengan perkembangan furnitur dan aksesori yang selalu mengikuti tren yang ada. Hal itu terlihat dari bermunculannya konsep-konsep hunian, seperti minimalis, modern, klasik, dan Mediterania.

Namun dari semua tren yang ada, sebagian belum mengikuti standar-standar rumah tinggal yang dibutuhkan masyarakat saat ini. Menurut Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Her Pramtama, secara umum kita masih mengalami krisis lingkungan, dan hal ini akan berkembang secara terus-menerus apabila arsitek, pemilik rumah, dan pemerintah ”tidak bersatu”.

Salah satu cara mengubahnya yaitu dengan menerapkan konsep green pada hunian, seperti memanfaatkan cahaya alami dan meminimalkan kebergantungan kita pada teknologi. Mengingat global warming sudah menjadi isu dunia, perlu kesadaran dari tiap lapisan masyarakat. Memang cukup sulit untuk mengubah semua dari awal karena keadaan yang sudah tidak lagi relevan untuk diubah ke masa dulu. Karena itu, dibutuhkan langkah awal untuk meminimalkan keadaan ini.

Her menjelaskan, pada 2010 kita sudah harus merancang desain yang nyaman. Dalam arti, kita dapat menghirup udara yang cukup dan penyerapan cahaya alami.

”Karena sebenarnya masyarakat kita sudah dibiasakan untuk ”toleransi-toleransi” tertentu. Seperti penggunaan AC, penggunaan listrik di siang hari, dan perilaku-perilaku lain sehingga untuk mengubahnya dari awal lagi cukup sulit. Jadi, mulai sekarang kita harus menghilangkan ”toleransi” tersebut dan kembali ke kehidupan nyata kita,” beber Her.

”Caranya dengan menerapkan konsep green pada area rumah, mengurangi penggunaan AC, mengurangi penggunaan lampu pada siang hari, dan ubah gaya hidup,” tambahnya.

Lalu, bagaimana dengan tren hunian 2010? Her selaku Ketua IAI untuk wilayah Jakarta, mempunyai jawaban khusus. Dia menje-laskan, sebenarnya arsitektur tidak bisa diarahkan sebagai fesyen atau tren, karena gaya hunian muncul ketika Indonesia mengalami krisis moneter, di mana harga material melambung cukup tinggi .

”Alhasil, pada saat itu furnitur yang digunakan dalam penataan rumah dikurangi dan muncullah pendekatan tren tersebut seperti minimalis, modern, klasik, dan konsep lainnya,” jelas Her.

Sedangkan desain tropis bukanlah suatu gaya, melainkan sebuah kebutuhan, karena sejatinya kita hidup di sebuah negara beriklim tropis. Jadi, gaya tropis adalah suatu keharusan dan kita harus aware atas masalah-masalah tersebut.

Lalu, apa sebenarnya yang ingin ”dilemparkan” oleh para arsitek dan pengusaha properti kepada khalayak untuk melihat desain hunian pada 2010? Jika kita menilik ke tahun sebelumnya, tren gaya minimalis tetap menjadi pilihan, mengingat ”kesederhanaan” pada zaman dulu memang dibutuhkan. Namun, perekonomian sekarang sudah semakin membaik dan masyarakat pun sudah mengarah ke titik jenuh pada suatu konsep hunian, sehingga timbullah usaha menuju keanekaragaman.

Menurut Her, tren arsitektur sekarang sudah mengarah ke titik jenuh, di mana masyarakat sudah mulai bosan dengan ”kesederhanaan” yang ada. Apalagi perekonomian yang sudah semakin membaik, sehingga tren tahun depan mengarah ke kolaborasi antara desain modern dan gaya lain yang mungkin lebih banyak menggunakan detail aksesori dan furnitur. Contoh, dulu kita hanya menggunakan tembok dengan cat warna putih, tapi sekarang masyarakat mempunyai banyak pilihan agar dinding tampak lebih dekoratif.

Lebih Hemat Energi

Global warming menjadi isu dunia yang paling teranyar saat ini. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara luar, tapi negara kita pun tak luput dari isu besar ini. Sebab itu, saat ini pemerintah dan berbagai elemen masyarakat sedang gencar-gencarnya menyuarakan hal tersebut, dan diharapkan tahun 2010 menjadi waktu yang tepat untuk kita melakukan perubahan.

Menurut arsitek Nunung Adiwijaya, 2010 akan menjadi tahun transisi tren minimalis menuju konsep green. ”Dalam arti, dari perkembangan minimalis menuju desain sustainable, yakni desain yang hemat energi,” katanya.

Ciri-ciri konsep green ini, pertama: rumah memiliki banyak bukaan seperti jendela-jendela yang besar dan tinggi. Dengan banyak bukaan, rumah akan lebih banyak mengadopsi udara dan cahaya alami sekaligus mengurangi penggunaan energi listrik pada siang hari.

Kedua, bangunan-bangunannya lebih tinggi, yakni plafon yang dibuat lebih dari tiga meter. Desain seperti ini tidak hanya membuat rumah menjadi hemat energi, tapi juga memberi kesan mewah dan megah. ”Biasanya hal tersebut diterapkan di ruang publik seperti ruang keluarga dan ruang tamu,” ujar Nunung.

Ciri ketiga, biasanya konsep seperti ini kerap memanfaatkan banyak lansekap, seperti taman di area depan maupun belakang rumah. Berbicara desain eksterior 2010, tentu berkaitan pula dengan interiornya. Menurut Nunung, desain interior akan mengikuti tren rumah yang sedang berkembang. Karena antara desain eksterior dan interior saling berkesinambungan, jadi pasti ada beberapa aspek yang menjadi second opinion. Contohnya, ujar Nunung, sekarang masyarakat sudah banyak yang jenuh dengan desain modern dan beralih ke desain yang ”abadi”, dalam arti tidak habis termakan zaman, semisal gaya klasik dan art deco.

”Tapi, mengingat tahun depan merupakan transisi tren minimalis ke konsep green, maka desain interior minimalis masih menjadi pilihan,” imbuh Nunung.

Pergantian tren desain hunian tidak hanya dirasakan pada fasad dan bentuk rumah, tapi juga warna. Nunung berpendapat, tren warna di masa mendatang mungkin akan banyak mengalami perubahan, karena masyarakat sekarang sudah mulai berani menerapkan warna-warna cerah di dalam rumah mereka.

”Seperti hijau dan biru, tapi tidak tertutup kemungkinan masyarakat masih banyak juga yang menerapkan warna netral seperti abu-abu, karena melihat tahun depan ada peralihan dari desain minimalis ke konsep green,” jelas Nunung.(Koran SI/Koran SI/tty)

Sumber artikel:

http://lifestyle.okezone.com/read/2009/12/29/30/289208/30/desain-hunian-2010-transisi-minimalis-ke-konsep-green

Hemat Energi dengan Arsitektur


KESELARASAN hidup manusia dan alam terangkum dalam konsep arsitektur hijau. Konsep yang kini tengah digalakkan dalam kehidupan manusia modern.

Arsitektur hijau adalah suatu pendekatan pada bangunan yang dapat meminimalisasi berbagai pengaruh membahayakan pada kesehatan manusia dan lingkungan. Arsitektur hijau meliputi lebih dari sebuah bangunan.

Dalam perencanaannya, harus meliputi lingkungan utama yang berkelanjutan. "Untuk pemahaman dasar arsitektur hijau (green architecture) yang berkelanjutan, di antaranya lanskap, interior, dan segi arsitekturnya menjadi satu kesatuan," ujar Nirwono Yoga, desainer lanskap yang juga pemerhati lingkungan.

Dalam perhitungan kasar, jika luas rumah adalah 150 meter persegi, dengan pemakaian lahan untuk bangunan adalah 100 meter persegi, maka sisa 50 meter lahan hijau harus digenapkan dengan memberdayakan potensi sekitar. Nirwono mencontohkan, pemberdayaan atap menjadi konsep roof garden dan green wall. Dinding bukan sekadar beton atau batu alam, melainkan dapat ditumbuhi tanaman merambat. Selain itu, tujuan pokok arsitektur hijau adalah menciptakan eco desain, arsitektur ramah lingkungan, arsitektur alami, dan pembangunan berkelanjutan.

"Arsitektur hijau dipraktikkan dengan meningkatkan efisiensi pemakaian energi, air, dan bahan-bahan, mereduksi dampak bangunan terhadap kesehatan melalui tata letak, konstruksi, operasi, dan pemeliharaan bangunan," ulas Dr Mauro Rahardjo dari Feng Shui School Indonesia.

Secara matematis disebutkan, konsumsi 300 liter air harus dapat dikembalikan sepenuhnya ke tanah. Misalkan, air sisa cuci sayur dapat digunakan untuk mencuci mobil. "Atau membuat sumur resapan dan biopori," kata Nirwono.

Dalam hal estetika, arsitektur hijau terletak pada filosofi merancang bangunan yang harmonis dengan sifat-sifat dan sumber alam yang ada di sekelilingnya. Penggunaan bahan bangunan yang dikembangkan dari bahan alam dan bahan bangunan yang dapat diperbaharui.

"Memanfaatkan sumber yang dapat diperbaharui seperti menggunakan sinar matahari melalui passive solar dan active solar, serta teknik photovoltaic dengan menggunakan tanaman dan pohon-pohon melalui atap hijau dan taman hujan," kata Mauro.

Konsep arsitektur hijau sangat mendukung program penghematan energi. Rumah ala tropis dengan banyak bukaan, dibentuk untuk mengurangi pemakaian AC juga penerangan. Namun, hal tersebut tidak akan berjalan mulus jika sekeliling rumah tidak asri. Bukaan banyak hanya akan memasukkan udara panas dan membuat pemiliknya tetap memasang pendingin ruangan.

Taman dan halaman dalam arsitektur hijau juga tidak sekadar memperhatikan estetika. "Dengan adanya krisis pangan, gagasan roof garden bisa jadi apotek hidup atau kebun sayuran. Tidak zaman lagi bikin taman dari segi estetis saja," sebut Nirwono. Tanaman sayur ditata serapi mungkin, kemudian dikonsumsi pemiliknya. Beberapa tanaman yang cocok untuk roof garden adalah daun sirih, pandan sayur, kangkung, dan lain-lainnya.

Nirwono menjelaskan adanya keselarasan antartiap sendi dalam kehidupan. Orang bicara konsep hijau, tapi tidak jeli dengan sekitar. Krisis energi muncul akibat kelemahan manusia dalam memenuhi kebutuhan. Manusia menunggu datangnya bahan pangan dari luar kota. Sayur tomat yang bisa ditanam di halaman, tidak menjadi pilihan pertama. Lebih suka menunggu truk sayur membawa dari luar kota. Coba pikir, berapa banyak energi yang terbuang.

Sebuah perusahaan di Jerman melansir produk batu bata ramah lingkungan. Nyatanya, produk tersebut tidak jadi ramah lingkungan jika mesti dibawa menggunakan kapal laut ke luar Jerman. Sebaiknya kita mampu menggunakan batu bata sendiri, dengan biaya dan peluang pemborosan energi lebih sedikit. Struktur bangunan asli Indonesia sudah menerapkan prinsip green architecture.

"Struktur bangunan di Jawa dan Irian, jenis arsitektur tropis memanfaatkan bahan asli dari daerah tersebut," ucap pria ramah ini. Dengan segala keterbatasan, nenek moyang kita membangun rumah tepat daya dan guna.

Dari segi interior, arsitektur hijau mensyaratkan dekorasi dan perabotan tidak perlu berlebihan, saniter lebih baik, dapur bersih, desain hemat

energi, kemudahan air bersih, luas dan jumlah ruang sesuai kebutuhan, bahan bangunan berkualitas dan konstruksi lebih kuat, serta saluran air bersih. Untuk mengatasi limbah sampah, lubang biopori dapat menjadi solusi.

(sindo//tty)

Sumber artikel:

Hijahttp://lifestyle.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/06/25/30/121967/hemat-energi-dengan-arsitektur-hijau



Senin, 22 Maret 2010

Pengertian Permintaan dan Penawaran, Hukum & Faktor Yang Mempengaruhi


Dalam ekonomi terdapat permintaan (demand) dan penawaran (supply) yang saling bertemu dan membentuk satu titik pertemuan dalam satuan harga dan kuantitas (jumlah barang). Setiap transaksi perdagangan pasti ada permintaan, penawaran, harga dan kuantitas yang saling mempengaruhi satu sama lain.

A. Pengertian/Arti Definisi Permintaan dan Penawaran
Permintaan adalah sejumlah barang yang dibeli atau diminta pada suatu harga dan waktu tertentu. Sedangkan pengertian penawaran adalah sejumlah barang yang dijual atau ditawarkan pada suatu harga dan waktu tertentu.
Contoh permintaan adalah di pasar kebayoran lama yang bertindak sebagai permintaan adalah pembeli sedangkan penjual sebagai penawaran. Ketika terjadi transaksi antara pembeli dan penjual maka keduanya akan sepakat terjadi transaksi pada harga tertentu yang mungkin hasil dari tawar-menawar yang alot.

B. Hukum Permintaan dan Hukum Penawaran
Jika semua asumsi diabaikan (ceteris paribus) : Jika harga semakin murah maka permintaan atau pembeli akan semakin banyak dan sebaliknya. Jika harga semakin rendah/murah maka penawaran akan semakin sedikit dan sebaliknya.
Semua terjadi karena semua ingin mencari kepuasan (keuntungan) sebesar-besarnya dari harga yang ada. Apabila harga terlalu tinggi maka pembeli mungkin akan membeli sedikit karena uang yang dimiliki terbatas, namun bagi penjual dengan tingginya harga ia akan mencoba memperbanyak barang yang dijual atau diproduksi agar keuntungan yang didapat semakin besar. Harga yang tinggi juga bisa menyebabkan konsumen/pembeli akan mencari produk lain sebagai pengganti barang yang harganya mahal.

C. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Permintaan (Demand)

1. Perilaku konsumen / selera konsumen
Saat ini handphone blackberry sedang trend dan banyak yang beli, tetapi beberapa tahun mendatang mungkin blackberry sudah dianggap kuno.

2. Ketersediaan dan harga barang sejenis pengganti dan pelengkap
Jika roti tawar tidak ada atau harganya sangat mahal maka meises, selai dan margarin akan turun permintaannya.

3. Pendapatan/penghasilan konsumen
Orang yang punya gaji dan tunjangan besar dia dapat membeli banyak barang yang dia inginkan, tetapi jika pendapatannya rendah maka seseorang mungkin akan mengirit pemakaian barang yang dibelinya agar jarang beli.

4. Perkiraan harga di masa depan
Barang yang harganya diperkirakan akan naik, maka orang akan menimbun atau membeli ketika harganya masih rendah misalnya seperti bbm/bensin.

5. Banyaknya/intensitas kebutuhan konsumen
Ketika flu burung dan flu babi sedang menggila, produk masker pelindung akan sangat laris. Pada bulan puasa (ramadhan) permintaan belewah, timun suri, cincau, sirup, es batu, kurma, dan lain sebagainya akan sangat tinggi dibandingkan bulan lainnya.

D. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Penawaran (Suply)

1. Biaya produksi dan teknologi yang digunakan
Jika biaya pembuatan/produksi suatu produk sangat tinggi maka produsen akan membuat produk lebih sedikit dengan harga jual yang mahal karena takut tidak mampu bersaing dengan produk sejenis dan produk tidak laku terjual. Dengan adanya teknologi canggih bisa menyebabkan pemangkasan biaya produksi sehingga memicu penurunan harga.

2. Tujuan Perusahaan
Perusahaan yang bertujuan mencari keuntungan sebesar-besarnya (profit oriented) akan menjual produknya dengan marjin keuntungan yang besar sehingga harga jual jadi tinggi. Jika perusahaan ingin produknya laris dan menguasai pasar maka perusahaan menetapkan harga yang rendah dengan tingkat keuntungan yang rendah sehingga harga jual akan rendah untuk menarik minat konsumen.

3. Pajak
Pajak yang naik akan menyebabkan harga jual jadi lebih tinggi sehingga perusahan menawarkan lebih sedikit produk akibat permintaan konsumen yang turun.

4. Ketersediaan dan harga barang pengganti/pelengkap
Jika ada produk pesaing sejenis di pasar dengan harga yang murah maka konsumen akan ada yang beralih ke produk yang lebih murah sehingga terjadi penurunan permintaan, akhirnya penawaran pun dikurangi.

5. Prediksi / perkiraan harga di masa depan
Ketika harga jual akan naik di masa mendatang perusahaan akan mempersiapkan diri dengan memperbanyak output produksi dengan harapan bisa menawarkan/menjual lebih banyak ketika harga naik akibat berbagai faktor.

Hukum Permintaan dan Penawaran Yang Berlaku Saat Ini


Pada kenyataan saat ini hukum permintaan dan penawaran tidak begitu saja berlaku.
contohnya pada saat hari-hari besar perayaan umat beragama. permintaan meningkat tetapi harga barang justru cenderung naik padahal disisi lain stok barang masih melimpah.