Rabu, 19 Mei 2010

Mengurangi Emisi, Menimbang Potensi


“Waktu kejadian mati listrik beberapa waktu lalu, dalam satu hari saya rugi sekitar 1,5 juta,” ujarnya, sesaat setelah mengetahui bahwa saya ingin mendapat informasi soal kebutuhan listrik industri kecil seperti miliknya. Kerugian itu, Slamet menjelaskan, disebabkan oleh pelanggan yang kecewa dan pada akhirnya membatalkan pesanannya.

Selama kurang lebih 20 tahun mengelola usaha pembuatan pakaian jadi, Slamet mengakui kebutuhan energi listriknya terus membengkak dan menjadi kian vital. “Dulu cuma ada 1-2 mesin (jahit listrik), sekarang, lantaran banyaknya pesanan, sudah ada sepuluh karyawan dan penambahan mesin. Otomatis kebutuhan listriknya bertambah,” Slamet menjelaskan. Kondisi yang sama dialami oleh Dewi, 28 tahun, yang mengelola usaha pembuatan segala jenis tas. Meski tidak pernah benar-benar menghitung kerugian akibat padamnya listrik, Dewi mengutarakan bahwa kebutuhannya akan pasokan listrik semakin berkembang seiring bertumbuhnya bisnis tas miliknya.
***
DUA TAHUN LALU, nun di perbukitan Mundi, Desa Klumpu, di Pulau Nusa Penida, saya menyaksikan lima buah menara kincir angin berdiri tegak. Namun, empat di antaranya terlihat tidak berputar sama sekali. Satu kincir, yang berputar, pun lamat-lamat lalu berhenti. Seorang teknisi kemudian memanjat menara kincir setinggi kira-kira 30 meter, seperti hendak melakukan sesuatu.
Setelah turun, saya tanyakan kenapa semua kincir angin berhenti. Dia tidak tahu. Yang dia tahu, ketika berhenti berputar, putaran baling-baling berdiameter 18 meter itu mesti dipancing dengan menggunakan energi listrik dari mesin diesel yang dipasok PLN.
Kincir angin tersebut merupakan bagian dari proyek “Renewable Energy Park” atau Taman Energi Terbarukan (TET) yang dicanangkan pemerintah sekitar empat tahun lalu. Selain kincir angin yang masing-masing diproyeksikan menghasilkan 80 kWh dan menghemat 5.000 liter solar per bulan, juga ditanam perkebunan jarak pagar (Jatropha curcas) di atas lahan seluas 22 hektare. Bukan itu saja, di bukit Mundi juga dibangun rangkaian panel surya untuk pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas pembangkit 32 kWh.
Bagaimana hasilnya?
“Hingga kini kincir angin itu tidak pernah berputar," ujar I Made Sudi Arta Jaya, Camat Nusa Penida. Menurut Made, sejak dicanangkan TET di wilayahnya, tidak ada langkah yang serius untuk menindaklanjutinya. “Yang jelas masyarakat belum merasakan dampaknya sama sekali. Minyak jarak juga tidak ada yang membeli di sini, lebih baik lahannya dibuat untuk menanam yang lain saja,” tukas Made.
***
Apa yang dialami Slamet, Dewi, atau Made di Bali merupakan potret bagaimana pengelolaan energi kita sekaligus menunjukkan bahwa bagi sektor riil, ketersediaan energi listrik merupakan salah satu faktor kunci untuk bertumbuh.
Namun, di tengah realitas terkini itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajukan tantangan: Indonesia mesti bisa mengurangi emisi karbon sebesar 26 persen, dihitung dari keadaan business as usual (BAU) dalam kurun waktu sepuluh tahun ke depan.
SBY melontarkan tantangan tersebut tiga kali. Pertama dalam pertemuan para pemimpin G-20 pada 25 September 2009 di Pittsburgh, Amerika Serikat. Dalam pidatonya tersebut, presiden bahkan mengatakan mampu mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) hingga 41 persen jika mendapat bantuan internasional. Presiden kembali melontarkan janji serupa di Brussel, dan kemudian terakhir dalam Konferensi para Pihak (CoP) ke-15 di Kopenhagen, Denmark, Desember lalu.


referensi : http://nationalgeographic.co.id/featurepage/136/mengurangi-emisi-menimbang-potensi/2

Melindungi Patagonia

Tempat yang dulunya merupakan peternakan Samsing kini berubah menjadi danau es dengan bongkah-bongkah es yang mengapung di permukaannya. Gletser tersebut, yang kini dinamakan Pio XI, sempat berdiam sesaat, kemudian melanjutkan pergerakannya lagi. Saat ini gletser tersebut tengah dalam proses mencerabut sebuah hutan sampai ke akarnya, menyingkirkan tutupan pohonnya dengan perlahan. Di sepanjang jalur pepohonan yang tercerabut, Guaitecas cypreses, beberapa di antaranya berumur ratusan tahun, tampak seakan tumbang dalam gerakan lambat. Akar-akar pohon tercerabut, tajuk-tajuknya terpatahkan, batang-batangnya bergelimpangan. Bongkahan-bongkahan es sebesar gajah telah longsor dan bergerak melewati bagian bawah lelumutan dan tumbuhan rawa pemakan daging.

Daerah hutan yang tengah tergusur oleh Pio XI merupakan jenis hutan hujan Magellanis – bukan jenis hutan hujan tropis bertajuk rimbun yang gelap, namun yang berjenis bonsai dengan dedaunan kusut yang kerap terlihat di antara barisan pohon di pegunungan. Dan hal ini tidak mengherankan. Fjord-fjord dan pulau-pulau di Patagonia Cile mendapat pengaruh terbesar dari pergerakan angin barat yang berembus dari laut selatan. Di daerah ini, di tengah-tengah angin yang menderu kencang, angin ini dapat bertiup dengan ganas secara konstan. Hujan dan salju dapat turun sepanjang tahun.

Tidak ada tempat di muka bumi yang benar-benar beristirahat. Hanya waktu yang menciptakan ilusi keadaan stabil. Namun kadangkala, jika Anda beruntung, Anda akan menemukan suatu tempat di mana waktu seakan berjalan lebih lambat, tempat Anda dapat merasakan betapa besar sebuah kekuatan geologis.

Gletser yang membentuk pesisir pantai Cile merupakan salah satunya. Di tempat ini, energi Bumi nampak sangat jelas. Lempeng-lempeng tektonik menyebar dan menghujam ke bawah pinggiran benua ini, mengangkat pegunungan Andes dan menciptakan sebuah zona geologis yang labil. Dari bagian interior lapangan-lapangan es tersebut, gletser seperti Pio XI – sungai es pendek yang brutal – dengan lancar mengalir turun menuju laut. Di lepas pantai, arus air naik dari Arus Peru merupakan air pancuran bagi kehidupan bawah air. Garis pantainya yang terbelah-belah oleh labirin air, memanjang hingga 90.000 kilometer. Bagian ini dikuasai oleh lautan dan es.

referensi : http://nationalgeographic.co.id/featurepage/131/melindungi-patagonia/2

Tetes Air Terakhir


Anda tidak harus menjadi seorang pejuang lingkungan berkomitmen tinggi seperti Pape, editor layanan berita mengenai perubahan iklim, untuk menyadari bahwa masa air murah dan melimpah sudah mendekati titik akhir. Walau masih dibutuhkan waktu sangat lama hingga Bumi akan mati kekeringan. “Bahwa kita akan menemukan cara menangani masalah pasokan air adalah hal yang pasti,” ujar Peter Gleick, presiden Pacific Institute, sebuah lembaga penelitian lingkungan nonpartisan. “Tantangannya adalah bagaimana kita dapat menangani dan menghindari kesengsaraan serta penderitaan untuk mencapai tujuan kita.”

Menurut pandangan Gleick, ada dua cara penyelesaian yang dapat dilakukan. Cara sulit, di mana sebagian besar fokus tertuju hanya pada cara untuk menyediakan pasokan air baru, seperti bendungan , kanal-kanal, dan pipa-pipa maha besar yang mengalirkan air dalam jarak sangat jauh. Gleick lebih memilih cara mudah: sebuah metode pendekatan komprehensif yang mencakup pelestarian dan efisiensi, infrastruktur berskala komunitas, perlindungan terhadap ekosistem air, pengelolaan pada tingkat pelaksanaan dan bukan administratif, serta tata ekonomi yang cerdas.

Hingga pertengahan tahun 1980-an, kota Albuquerque, sekitar 100 kilometer barat daya tempat tinggal Pape di Santa Fe, tak menyadari bahwa mereka harus melakukan perubahan untuk mengatasi masalah pasokan air. Para ahli hidrogeologi meyakini bahwa kota ini berada di atas sebuah reservoir bawah tanah “sebesar Lake Superior,” kata Katherine Yuhas, direktur konservasi Otoritas Pengelola Air Albuquerque Bernalillo County. Budaya dan kebiasaan setempat disesuaikan dengan kondisi daerah hijau : Para agen pengembang memikat pembeli potensial dari wilayah-wilayah lembap dan hijau dengan tata lanskap yang serimbun dan sehijau negara bagian Vermont; standar tata bangunan setempat mengharuskan adanya pekarangan. Namun, kemudian penelitian mengungkap kabar yang mengejutkan: akuifer Albuquerque sama sekali tidak sebesar yang diperkirakan dan telah disedot lebih cepat daripada kemampuan tingkat curah hujan dan lelehan salju untuk mengisinya kembali.

referensi : http://nationalgeographic.co.id/featurepage/146/tetes-terakhir/2

Gunung Yang Berubah


Pertama kali menyelam di bawah bayangan Gunung St. Helens semasa remaja dahulu, masih terlintas dalam benaknya kondisi danau itu sebelum letusan pada bulan Mei 1980, sebelum sekitar 400 meter dari puncak gunung berapi itu—kira-kira tiga miliar meter kubik lumpur, debu, dan salju yang meleleh—meluncur ke dalam danau itu. Sebelum ukuran danau itu menjadi dua kali lebih besar tetapi hanya setengah kedalamannya. Sebelum akhirnya semua bukti kehidupan, binatang maupun manusia – kabin, jalanan, kamp, dan kaleng – disapu bersih. Sebelum danau itu menjadi hamparan sup tengik tanpa oksigen, dan ditutupi oleh hamparan tunggul pepohonan yang mengambang akibat tercerabut dari lanskapnya. Hal yang tertanam jelas di dalam ingatan Smith adalah apa yang dia sebut sebagai hutan “yang membatu”: pohon-pohon cemara tanpa cabang yang berdiri tegak dengan muramnya, terkubur dengan posisi berdiri lusinan meter di bawah permukaan air. Hutan di bawah air itu selalu menjadi sebuah misteri baginya sampai gunung itu meletus. Setelahnya, dia baru bisa memahaminya. Pepohonan itu adalah bukti terjadinya letusan di masa lalu—sebuah tanda Lake Spirit selalu menjadi langganan bencana.

Tiga dekade kemudian, Lake Spirit menjadi rumah bagi sebuah misteri baru: Bagaimana ikan, yang kini ukurannya dua kali lipat sebelum terjadi letusan, muncul kembali? Semua orang memiliki teorinya masing-masing. Smith, yang mengendalikan Eco Park Resort di pinggir monumen gunung berapi menduga ikan salem ini meluncur dari Danau St. Helens yang lebih kecil dengan posisi lebih tinggi pada saat banjir terjadi. Tetapi danau itu hanya dihuni oleh ikan salmon mackinaw—sementara ikan di Lake Spirit dari jenis pelangi. Ahli biologi Bob Lucas dari Departement of Fish and Wildlife di Washington meyakini bahwa seseorang secara ilegal telah menyebarkan benih ikan itu. Di akhir tahun 1990-an, sebuah telepon tak dikenal ke rumahnya seakan-akan membuktikan kecurigaannya: “Saya adalah orang yang menyebarkan benih ikan itu.” Pengujian awal genetik oleh ahli ekologi Charlie Crisafulli dari Forest Service juga menyatakan ikan salem itu bukanlah keturunan dari populasi ikan sebelum letusan. Baginya, pertanyaan yang lebih penting bukanlah bagaimana mereka tiba di sana tetapi bagaimana mereka bisa tumbuh sedemikian besarnya. Pada ulang tahun ke-30 letusan tanggal 18 Mei, salah satu hal yang pasti mengenai ikan salem di Lake Spirit adalah ikan ini telah memberikan semua orang—aktivis lingkungan, ilmuwan, nelayan, anggota kongres, pemburu, dan pemilik bisnis—sesuatu untuk diperdebatkan.

Danau seluas 11 kilometer persegi itu kini terletak di tengah-tengah kawasan penelitian yang tertutup, yang menempati seperempat dari 445 kilometer persegi Monumen Nasional Gunung Api St. Helens, yang telah disetujui Kongres pada 1982 “untuk melindungi sumber daya geologi, ekologi, dan kebudayaan … dengan cara yang sealami mungkin, memungkinkan berbagai kekuatan alami geologi dan kesinambungan ekologi untuk terus berlangsung tanpa gangguan.” Bagian dari zona ledakan yang kerap ditutup bagi publik ini telah menjadi salah satu tempat penelitian terbesar di planet kita.

Gunung berapi itu kembali hidup pada 2004 hingga 2008, memuntahkan uap panas dan debu sekitar 9.000 meter ke angkasa, menciptakan kubah lava baru di kawahnya sehingga memukau para pemerhati dan ahli geologi. Tetapi yang paling menarik di kawasan itu adalah dari sisi ekologi.

referensi : http://nationalgeographic.co.id/featurepage/148/gunung-yang-berubah/2

Sabtu, 08 Mei 2010

Persaingan Pasar Tradisional Dengan Pasar Modern



Berbeda dengan pasar modern, pasar tradisional sejatinya memiliki keunggulan bersaing alamiah yang tidak dimiliki secara langsung oleh pasar modern. Lokasi yang strategis, area penjualan yang luas, keragaman barang yang lengkap, harga yang rendah, sistem tawar menawar yang menunjukkan keakraban antara penjual dan pembeli merupakan keunggulan yang dimiliki oleh pasar tradisional.

Namun, selain menyandang keunggulan alamiah, pasar tradisional memiliki berbagai kelemahan yang telah menjadi karakter dasar yang sangat sulit diubah. Faktor desain dan tampilan pasar, atmosfir, tata ruang, tata letak, keragaman dan kualitas barang, promosi penjualan, jam operasional pasar yang terbatas, serta optimalisasi pemanfaatan ruang jual merupakan kelemahan terbesar pasar tradisional dalam menghadapi persaingan dengan pasar modern.

Ketika konsumen menuntut ’nilai lebih’ atas setiap uang yang dibelanjakannya, maka kondisi pasar pasar tradisional yang kumuh, kotor, bau, dengan atmosfir seadanya dalam jam operasional yang relatif terbatas tidak mampu mengakomodasi hal ini. Kondisi ini menjadi salah satu alasan konsumen untuk beralih dari pasar tradisional ke pasar modern. Artinya, dengan nilai uang yang relatif sama, pasar modern memberikan kenyamanan, keamanan, dan keleluasaan berbelanja yang tidak dapat diberikan pasar tradisional.

Kondisi ini diperburuk dengan citra pasar tradisional yang dihancurkan oleh segelintir oknum pelaku dan pedagang di pasar. Maraknya informasi produk barang yang menggunakan zat kimia berbahaya serta relatif mudah diperoleh di pasar tradisional, praktek penjualan daging oplosan, serta kecurangan-kecurangan lain dalam aktifitas penjualan dan perdagangan telah meruntuhkan kepercayaan konsumen terhadap pasar tradisional.

Belum lagi kenyataan, Indonesia adalah negara dengan mayoritas konsumen berasal dari kalangan menengah ke bawah. Kondisi ini menjadikan konsumen Indonesia tergolong ke dalam konsumen yang sangat sensitif terhadap harga. Ketika faktor harga rendah yang sebelumnya menjadi keunggulan pasar tradisional mampu diruntuhkan oleh pasar modern, secara relatif tidak ada alasan konsumen dari kalangan menengah ke bawah untuk tidak turut berbelanja ke pasar modern dan meninggalkan pasar tradisional.

Ancaman Pasar Modern Terhadap Pasar Tradisional

Eksistensi pasar modern di Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat. Menurut data yang diperoleh dari Euromonitor (2004) hypermarket meru-pakan peritel dengan tingkat pertumbuhan paling tinggi (25%), koperasi (14.2%), minimarket / convenience stores (12.5%), independent grocers (8.5%), dan su-permarket (3.5%).

Selain mengalami pertumbuhan dari sisi jumlah dan angka penjualan, peritel modern mengalami pertumbuhan pangsa pasar sebesar 2.4% pertahun terhadap pasar tradisional. Berdasarkan survey AC Nielsen (2006) menunjukkan bahwa pangsa pasar dari pasar modern meningkat sebesar 11.8% selama lima tahun terakhir. tiga tahun terakhir. Jika pangsa pasar dari pasar modern pada tahun 2001 adalah 24.8% maka pangsa pasar tersebut menjadi 32.4% tahun 2005. Hal ini berarti bahwa dalam periode 2001 – 2006, sebanyak 11.8% konsumen ritel Indonesia telah meninggalkan pasar tradisional dan beralih ke pasar modern.

Keberadaan pasar modern di Indonesia akan berkembang dari tahun ke tahun. Perkembangan yang pesat ini bisa jadi akan terus menekan keberadaan pasar tradisional pada titik terendah dalam 20 tahun mendatang. Pasar modern yang notabene dimiliki oleh peritel asing dan konglomerat lokal akan menggantikan peran pasar tradisional yang mayoritas dimiliki oleh masyarakat kecil dan sebelumnya menguasai bisnis ritel di Indonesia.

Untuk mengantisipasi hal tersebut perlu adanya langkah nyata dari pedagang pasar agar dapat mempertahankan pelanggan dan keberadaan usahanya. Para pedagang di pasar tradisional harus mengembangkan strategi dan membangun rencana yang mampu memenuhi kebutuhan dan tuntutan konsumen sebagaimana yang dilakukan pasar modern. Jika tidak, maka mayoritas pasar tradisional di Indonesia beserta penghuninya hanya akan menjadi sejarah yang tersimpan dalam album kenangan industri ritel di Indonesia dalam waktu yang relatif singkat. (*)Pertarungan sengit antara pedagang tradisional dengan peritel raksasa merupakan fenomena umum era globalisasi. Jika Pemerintah tak hati-hati, dengan membina keduanya supaya sinergis, Perpres Pasar Modern justru akan membuat semua pedagang tradisional mati secara sistematis.
Hanya tinggal menunggu waktu pasar tradisional akan mati oleh pasar modernSetelah tertunda 2,5 tahun, Peraturan Presiden (Perpres) No 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, serta Toko Modern (biasa disebut Perpres Pasar Modern), akhirnya ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 27 Desember 2007 lalu.

Enam pokok masalah diatur dalam Perpres yaitu definisi, zonasi, kemitraan, perizinan, syarat perdagangan (trading term), kelembagaan pengawas, dan sanksi. Soal zonasi atau tata letak pasar tradisional dan pasar modern (hypermart), menurut Perpres, disusun oleh Pemerintah Daerah (Pemda). Ini membuat pemerintah pusat terkesan ingin “cuci tangan”, mengingat tata letak justru merupakan persoalan krusial sebab tak pernah konsisten dipatuhi, yang lalu membenturkan keduanya. Pendirian Carrefour di kawasan CBD Ciledug, Kota Tangerang, Banten, misalnya. Awalnya Carrefour Ciledug ditolak keras oleh semua pedagang tradisional di sekelilingnya, tetapi pada akhirnya bisa beroperasi dengan mulus persis menjelang Natal 2007.

Pengalihan kewenangan mengeluarkan Izin Usaha Pasar Modern (IUPM) ke Pemda, memungkinkan pasar tradisional selalu dikorbankan dengan berbagai alasan. Indikasinya, sebagian besar pasar modern tidak memiliki IUPM dari pemerintah pusat. “Untuk masalah zonasi, Pemda diberi waktu tiga tahun untuk menyusun rencana umum tata ruang wilayah (RUTRW) yang mengacu kepada Undang-Undang Tata Ruang,” kata Ardiansyah Parman, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri, Depdag.

Akan Mati Semua
Penandatanganan Perpres berlangsung setelah PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk melepas bisnis ritelnya, dengan menjual seluruh kepemilikan sahamnya di PT Alfa Retailindo Tbk pada 5 Oktober 2006, dan di PT Sumber Alfaria Trijaya 15 Desember 2006. Ribuan outlet Alfamart dan Alfamidi tersebar di kawasan pemukiman warga, belum termasuk Alfa Rabat sekelas supermarket sebanyak 29 buah.

Setelah itu muncul kabar raksasa ritel asal Perancis PT Carrefour Indonesia sepakat untuk membeli 75 persen saham Alfa Ratailindo, dengan menyasar supermarketnya. Nota kesepahaman pembelian saham ditandatangani di Singapura 17 Desember 2007, dilanjutkan negosiasi pembelian saham pada 6 Januari 2008, menjadikan Carrefour berpotensi memonopoli usaha ritel sebab tampil sebagai market leader dan price leader.

Apabila pembelian saham Alfa benar-benar terjadi, maka, langkah perubahan Alfa Rabat menjadi Carrefour akan sama persis mengikuti jejak perubahan Hero menjadi Giant, atau supermarket Matahari menjadi Hypermart.

more.....

sumber artikel :
- http://www.google.co.id
-http://titik.dagdigdug.com/?p=26