Rabu, 23 Desember 2009

Nasib Orangutan

Pelepasliaran orangutan ke rumah sejatinya ternyata tidak semudah membolak-balik telapak tangan.

Oleh Rondang Siregar & Titania Febrianti
Foto oleh Tantyo Bangun


Rambut boleh sama lebat, tetapi orangutan kalimantan bukanlah domba yang senang beriringan atau berkumpul mencari kehangatan. Orangutan laksana elang yang terbang sendirian: penyendiri, soliter, itulah jati dirinya. Oleh karena itu, bukanlah hal yang menyenangkan saat melihat puluhan kera besar kemerahan itu berebut bebuahan, saling bertumpuk menenggelamkan panggung kayu di tengah hutan, seperti dua tim bola rugbi yang unjuk kemampuan. Namun, maklumlah. Mereka itu bukan orangutan penguasa hutan. Mereka adalah orangutan yang sudah sekian lama menerima kehangatan peradaban kerabatnya, manusia, sebagai binatang peliharaan yang—bagi yang beruntung—dimanja laksana kucing kesayangan.

Drama ala pemain rugbi itu tidaklah terjadi di tengah rimba perawan meski pepohonan tumbuh subur dalam “sekolah hutan” di Kalimantan itu, tempat orangutan ditempa kembali naluri alamiahnya. Setelah disita atau diserahkan secara sukarela, primata-primata itu diperkenalkan kembali dengan sifat-sifat liarnya (direhabilitasi istilahnya), lalu ditampung dalam lokasi penantian—salah satunya sekolah hutan—sebelum dilepaskan kembali ke alam liarnya.

“Sejauh ini ada sekitar 1.200-an orangutan yang menunggu untuk dilepasliarkan di Pulau Kalimantan,” ujar Sri Suci Utami Atmoko, peneliti dari Asosiasi Pemerhati dan Ahli Primata Indonesia. Angka itupun belum mencakup jumlah orangutan yang ada di pusat rehabilitasi di Pulau Sumatra.
Sekilas, angka yang disebut Suci bisa jadi ukuran yang menggembirakan bagi orangutan yang berdasarkan warta survei lengkap terakhir dalam PHVA (Population and Habitat Viability Assessment) 2004 berjumlah 6.600-7.300 ekor di Sumatra dan sekitar 54.000 ekor di Kalimantan. Betapa giat dan aktifnya upaya menghentikan spesies yang dilindungi ini sebagai binatang peliharaan. Ribuan orangutan disita dari masyarakat dan pasar-pasar gelap. Orangutan selundupan yang sudah sampai di berbagai negara dibawa pulang.

Di sisi lain, ribuan orangutan di hutan singgah juga jadi isyarat adanya persoalan-persoalan lain. Luas hutan singgah harus ditambah agar para penghuninya dapat belajar menjadi orangutan liar kembali. “Namun semakin lama area ini pun semakin penuh,” ujar Dhany Sitaparasti yang meneliti perilaku orangutan pada pusat rehabilitasi yang berlokasi di Kalimantan Timur.

Kesulitan mengembalikan orangutan eks peliharaan ke alam liar atau reintroduksi bertambah karena terus berkurangnya habitat yang memenuhi syarat. Pembukaan hutan untuk perkebunan sawit secara besar-besaran terjadi di Kalimantan. Pembukaan hutan untuk perkebunan, tambang, juga transmigrasi yang tak baik pengelolaannya dan tidak memperhitungkan tata ruang membuka lebar akses manusia untuk masuk lebih jauh ke dalam hutan. Akibatnya, siklus perdagangan gelap satwa liar dapat kembali berputar. Itu belum menghitung peristiwa kebakaran hutan Kalimantan yang pada 1997-1998 misalnya yang melumat hampir lima juta hektare rimba dan membunuh sepertiga populasi orangutan kalimantan.

Perubahan-perubahan fungsi lahan tentu saja berimbas pada pencarian habitat yang cocok bagi pelepasliaran orangutan eks peliharaan. Menurut Barita Manullang, seorang ahli ekologi primata, kalaupun ada, tak semua hutan cocok untuk pelepasliaran. Yang pasti, hutan yang sudah punya penduduk asli—orangutan tentunya—tertutup rapat bagi pendatang—orangutan juga. Larangan itu sesuai dengan panduan IUCN (International Union for Conservation of Nature) agar ekosistem yang sudah ada tidak “rusak” oleh kaum pendatang.
Susahnya, hutan yang tak punya penduduk orangutan asli pun belum tentu bisa jadi rumah baru bagi kerabatnya yang eks peliharaan. ”Harus ada penelitian lebih jauh yang menyatakan sebab ketiadaan atau punahnya populasi lokal. Apakah karena diburu manusia atau akibat penyakit lokal,” ungkap Barita.

Tantangan yang tidak lebih ringan dalam meliarkan kembali orangutan di hutan ternyata datang dari dalam. Yaitu dari orangutan-orangutan eks peliharaan itu sendiri yang enggan memeluk kembali jati dirinya dan juga penanganan proses rehabilitasi dan reintroduksinya (keterangan cakupan lokasi daerah ini ada di halaman 100). Cerita dari masalah yang seperti ini terjadi pada program yang berlangsung antara tahun 2000 hingga 2002. Saat itu, empat puluh ekor orangutan belia siap dilepas kembali, dan setelah menempuh perjalanan selama lebih dari tujuh jam menumpang truk dan helikopter, tibalah primata-primata itu di jantung hutan Pegunungan Meratus Kalimantan Timur. Di sana, peleton kera besar tersebut pun dibagi dua, Gauri dan 15 rekannya termasuk Victor mendapat tempat di suatu areal dengan tempat berteduh sebuah kandang berukuran sekitar dua kali delapan meter yang berjarak kurang dari satu kilometer dari kamp tempat para peneliti, teknisi lapangan, dan staf bermarkas. Dalam jarak 2,6 kilometer dari markas peneliti, 24 orangutan lainnya ditampung dalam kandang yang berbeda.

Sebelumnya, evaluasi akhir selama satu-dua bulan–bahkan ada yang dilakukan selama 12 bulan—telah ada di tangan para peneliti, seperti data perilaku hingga kesehatan. Itulah yang menjadi pegangan apakah orangutan berumur lima hingga tujuh tahun yang telah kehilangan induk siap untuk pulang ke habitat asli mereka.
Saat pintu kandang Gauri dan rekan-rekannya dibuka, nyatalah bahwa frase “kembali ke alam” hanya gampang ditulis, bukan dipraktikkan. Ada orangutan yang langsung melesat keluar, berjalan di tanah, dan menjauhi keramaian. Menggembirakan! Beberapa lainnya menyambar tali—yang memang disediakan—lalu memanjatinya untuk mencapai pohon terdekat. Namun, ada pula orangutan yang melesat keluar, lalu berlari untuk memeluk kaki staf peneliti. Bahkan, ada yang memohon untuk digendong manusia-manusia yang sudah berniat untuk tidak memanjakannya.

Itulah ironi di hari awal pelepasliaran. Orangutan memohon untuk tetap jinak. Sebaliknya, manusia yang satu spesies dengan yang memaksa kera itu agar menjadi “kucing rumah” dahulu, kini memaksa mereka untuk menjadi makhluk yang liar. Menjelang petang, Gauri dan seluruh rekannya memutuskan untuk tinggal di atas kandang memandangi manusia-manusia beranjak pergi. Hutan yang luas tampak tidak (belum) menarik bagi mereka. Di lokasi kedua, 14 orangutan telah lari menghilang sementara 10 sisanya masih bersikukuh di kandang.

Itu hari pertama, harapan masih memenuhi hati para peneliti. Mereka toh memilih metode soft release, yaitu satwa yang dalam proses pelepasliaran masih tetap diberi pakan tambahan hingga dinilai mampu mencari makan sendiri, juga dipantau. Ini berbeda dari metode kedua dalam panduan Reintroduction Specialist Group (RSG)-IUCN yaitu hard release di mana satwa dilepasliarkan tanpa diberi makanan tambahan sama sekali, juga tanpa diikuti.

Satu bulan setelah itu, masih tersisa 13 orangutan di kandang Gauri. Ada beberapa yang menyerah untuk menjadi liar kembali, entah karena takut atau tidak mampu. Yang jelas peneliti yang mengawasi secara intensif menemukan bahwa orangutan itu tiada memperlihatkan usaha untuk menjadi liar, dan juga mengalami luka.
Kandang kedua lebih menjanjikan karena orangutan yang masih terlihat rata-rata berada di atas pohon dan tidak terlalu peduli pada ada tidaknya makanan tambahan. Orangutan-orangutan itu lebih banyak memilih pohon berdiameter kurang dari 10 sentimeter dan peneliti menduga, itu akibat kebiasaan memanjati jeruji kandang yang kecil. Tidak masalah. Yang paling penting mereka berada di atas pohon, seperti orangutan liar.

Perilaku orangutan yang dinilai dapat beradaptasi dengan baik akan menjadi “model” bagi orangutan yang masih dalam program rehabilitasi. Program pelatihan dapat dimodifikasi sehingga dapat mencapai atau mendekati perilaku orangutan yang “sukses”, yaitu perilaku yang mirip atau sama dengan orangutan liar yang mampu mencari makanan hutan termasuk makan dengan cukup, membuat sarang untuk istirahat dan tidur, berinteraksi sosial dengan baik dengan sesama orangutan, termasuk tahu bagaimana menghindari pemangsa.

Empat bulan setelah pelepasliaran, Gauri dan Victor menghilang. Sebulan setelah menghilang, Gauri ditemukan oleh asisten peneliti tidak jauh dari kandang singgahnya. Kondisi tubuh Gauri lemah dan tampak ketakutan. Selama dua hari kondisi Gauri tidak membaik, hanya duduk diam di sekitar kandang dan makan seadanya dari tanaman-tanaman di sekelilingnya. Akhirnya, peneliti mengizinkan Gauri untuk ikut ke kamp agar dapat diperiksa kesehatannya, juga untuk diberi tambahan vitamin. Selang sepekan kemudian, Victor ditemukan sekitar satu kilometer dari kandang singgahnya dahulu. Dia tengah bermain di tanah, dan begitu melihat tim peneliti, Victor langsung minta digendong oleh salah satu staf. Masih jinak.

Gauri yang hingga sekitar 120 hari kehidupannya di hutan Meratus masih tetap mendekap sifat jinaknya adalah anak orangutan pertama yang dipantau kemudian diketahui mati setelah pelepasliaran dilakukan. Hasil nekropsi menunjukkan bahwa Gauri keracunan makanan, mengidap pneumonia (paru-paru basah), radang hati, dan radang lambung. Lambung Gauri nyaris kosong dan juga dipenuhi oleh gelembung-gelembung stres. Sama seperti manusia, orangutan juga bisa mengalami stres, dan akibatnya bisa mematikan.

Gauri jelas bukanlah contoh sukses program rehabilitasi dan reintroduksi yang berdasarkan RSG-IUCN punya dua ukuran, yaitu kemampuan bertahan hidup dan kelanjutan bereproduksi. Pada kasus monyet golden lion tamarin asal Brasil misalnya, sukses program tersebut diukur lewat pengamatan jangka panjang yang membuahkan data individu yang lengkap, baik tentang jumlah yang di lepasliarkan, yang bertahan hidup, mati dan yang akhirnya bereproduksi.

Kalimantan Timur memiliki dua lokasi pelepasliaran orangutan, yaitu hutan lindung Sungai Wain dan hutan Gunung Meratus. Data Wanariset Orangutan Reintroduction Project (WORP) memperlihatkan, hingga tahun 2003 sudah sekitar 400 anak orangutan dilepasliarkan di kedua hutan tersebut, termasuk 63 orangutan liar yang ditranslokasi atau dipindahkan akibat kebakaran hutan 1997-1998. Beberapa ekor orangutan yang pernah dilepaskan di hutan Sungai Wain juga terpaksa dipindahkan ke hutan Meratus karena beberapa kali mencoba untuk keluar dari kawasan hutan dan mengganggu penduduk yang tinggal di sekitar areal pelepasan.

Secara keseluruhan, hasil penelitian mengungkapkan bahwa 92 persen orangutan yang dilepasliarkan ke hutan Meratus sejak 1997 tidak diketahui nasibnya. Dapat diartikan, orangutan-orangutan itu mati atau hilang, kecuali mereka muncul kembali. Adapun total kematian yang pasti tercatat sebesar 3,5 persen dan orangutan yang diketahui berhasil berkembang biak sebanyak 0,3 persen dari total betina yang dilepasliarkan.

Sepanjang penelitian hingga 2003, hanya 14 ekor orangutan yang muncul kembali dan itu cuma 4,1 persen dari total yang dilepasliarkan. Survei 2004 menemukan sarang orangutan dan pertemuan langsung dengan orangutan—dari kelompok yang dilepasliarkan jauh sebelum Gauri—dan mereka menyebar cukup jauh dari lokasi pertama tempat mereka dilepas.

WORP mencatat, hingga 2009 ada 20 ekor orangutan hasil pelepasliaran yang terlihat, tetapi tidak dapat dipastikan apakah kera-kera itu adalah orangutan yang sama dengan yang dilihat pada tahun 2004. Pasalnya, tim survei dan teknisi yang bekerja sudah berganti dan tidak ada dokumentasi hasil pengamatan jangka panjang. Namun setidaknya, ada orangutan yang dapat bertahan hidup setelah dilepasliarkan selama 12 tahun sejak pelepasliaran pertama tahun 1997.

Sayang, tidak ada dokumentasi yang lengkap dari setiap proyek pelepasliaran yang dimulai hampir 20 tahun lampau itu. Padahal menurut Barita, indikator keberhasilan dari suatu usaha pelepasliaran spesies vertebrata besar baru bisa dipastikan lewat pengamatan jangka pendek selama 25 tahun ditambah pengamatan jangka panjang selama 50 tahun. “Tidak mudah memang karena memerlukan dana yang besar, juga komitmen warga sekitar hutan dalam mendukung program tersebut,” ujar Barita.

Mengubah sifat orangutan peliharaan dari jinak menjadi liar yang sama sekali tidak semudah membalikkan telapak tangan itu menambah gambaran betapa tidak bijaksananya membawa satwa tersebut ke dalam rumah. Memelihara bayi orang utan mungkin tampak menyenangkan karena anak orangutan hingga usia lima tahun sangatlah berpolah lucu. Namun, banyak orangutan yang lebih besar dipelihara di kandang karena tenaganya cukup besar dan mulai punya sifat merusak. Di kandang, orangutan yang stres akan berperilaku aneh seperti membentur-benturkan badan ke jeruji kandang, memeluk diri sendiri terutama bila takut atau diganggu, berulang kali mengangguk-anggukkan kepala, dan masih banyak lagi perilaku aneh lainnya.

Para peneliti menemukan, proses menjadi liar pun akan menjadi sulit dan berjalan sangat lambat. Pada orangutan yang sudah terbiasa hidup dengan nyaman saat dipelihara oleh manusia, bakal lebih sukar lagi prosesnya. Kemampuan anak-anak orangutan dalam beradaptasi di hutan yang sangat bervariasi akhirnya disebut peneliti dengan istilah daerah “abu-abu”. Oleh karena itulah, berbagai “pelatihan” untuk menjadi binatang liar merupakan hal yang sangat penting dalam program rehabilitasi anak-anak orangutan. Pelatihan itu mencakup pengenalan jenis-jenis pohon pakan, cara membuat sarang, gaya hidup yang sebagian besar dilakukan di atas pohon, interaksi dengan orangutan lain, serta sikap-sikap yang harus diambil saat mereka menghadapi pemangsa.

Penelitipun sampai pada kesimpulan, bahwa pengenalan dedaunan dan ranting untuk membuat sarang serta hal-hal alami yang nantinya akan ditemukan di hutan lebih berguna daripada benda-benda buatan yang berbau manusia seperti selimut, mainan anak kecil, bahkan boneka, yang selama ini lebih sering diperkenalkan kepada anak-anak orangutan.

Sesungguhnya, bukan sekadar sulitnya mengembalikan sifat liar yang membuat memelihara anak orangutan menjadi tidak bijaksana. Berbagai penelitian mengisyaratkan bahwa satu ekor anak orangutan yang dijual di pasar gelap bermakna adanya satu ekor induk yang harus dibunuh. Pasalnya, di alam, anak orangutan akan melekat pada induknya hingga mencapai usia lima tahun. Selama dua tahun setelah itu, si anak pun tidak pernah berani bermain jauh-jauh dari sisi sang induk. Karena sepanjang hidupnya seekor orangutan betina dapat melahirkan dua hingga tiga ekor bayi, kematian seekor induk juga bermakna punahnya peluang kehadiran dua hingga tiga orangutan baru. Dalam laporannya di tahun 2002, Mark Leighton dari Harvard University menyatakan, kematian satu persen orangutan betina di alam per tahun cukup untuk membuat populasi spesies tersebut melorot.

Dua tahun silam, Departemen Kehutanan menerbitkan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia. Dalam publikasi itu, terinci berbagai rencana kegiatan yang melibatkan berbagai pihak. Mulai dari masyarakat, para pemegang hak pengusaha hutan, pertambangan, hingga Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. Disebutkan pula bahwa kegiatan rehabilitasi dan reintroduksi orangutan ditargetkan selesai pada 2015.

Sayang, menurut Suci, hingga kini survei menunjukkan, bahwa hutan-hutan yang tersedia untuk pelepasliaran biasanya tidak layak bagi habitat orangutan. Hal ini diakibatkan oleh pohon pakan yang tidak cukup, ketinggian lahan yang tidak ideal bagi kehidupan orangutan yang seharusnya ada di dataran rendah, hingga hadirnya pemburu-pemburu sarang walet di dalam hutan tersebut. Pemburu dan pembalak jelas merupakan ancaman bagi orangutan yang hendak dilepasliarkan. Citrakasih Nente, seorang dokter hewan yang turut terlibat dalam program rehabilitasi orangutan di Kalimantan hingga paruh awal 2009 mengenang, sejak 2002—tahun terakhir pelepasliaran orangutan di hutan Gunung Meratus—dia berkali-kali merawat orangutan yang merupakan hasil pelepasliaran.

Pasalnya, kera-kera itu dibawa ke kantornya di pusat rehabilitasi dengan luka tembak dan luka bacok. Itu terus berlangsung hingga 2006, saat pembalakan liar marak di Meratus. Tahun-tahun berikutnya keadaan semakin membaik. “Setelah itu, sudah jarang orangutan yang datang dengan luka seperti itu,” jelas Citra.
Berbagai persoalan, perdagangan liar dan pemeliharaan ilegal, pembalakan liar, perburuan, dan perubahan lingkungan memang membuat masa depan orangutan tidaklah terlihat indah. “Mungkin ada orang yang berpikir, untuk apa kita memikirkan orangutan. Tapi kami ingin, orangutan itu memiliki kesempatan yang sama dengan orangutan yang kita lihat di alam liar. Kami ingin orangutan eks rehabilitasi punya kehidupan yang alami,” ujar Suci.

“Namun ingat, rehabilitasi bukanlah solusi,” lanjutnya penuh penekanan. Seperti halnya Barita, ia mengatakan bahwa hal yang paling penting adalah menjaga apa yang sudah ada di alam. “Seperti Taman Nasional Gunung Leuser di Sumatra. Populasi orangutan yang ada di sana sudah sangat bagus. Yang sekarang perlu diperhatikan adalah bagaimana caranya agar luasan taman nasional itu tetap terus terjaga,“ papar Suci.

Mengambil anak orangutan dari induk mereka bisa jadi terlihat “mudah”. Namun, usaha pelepasliaran kembali ke alam membutuhkan usaha yang amat keras. Itulah usaha agar orangutan tidak sekadar dikenal di kebun binatang atau bahkan dalam ensiklopedia.

referensi :
http://nationalgeographic.co.id/feature/117/nasib-orangutan
http://saudaratua.files.wordpress.com/2009/10/orangutan.jpg

Tidak ada komentar: